Bahaya Globalisasi Neoliberal

Hubungan antara globalisasi dengan neoliberalisme dapat diibaratkan seperti dua sisi dari sekeping mata uang yang sama. Sebagaimana dikemukakan Lafontaine, berbicara mengenai globalisasi sama artinya dengan berbicara mengenai penyebarluasan neoliberalisme. Sebaliknya, berbicara mengenai neoliberalisme sama artinya dengan berbicara mengenai ekspansi kepentingan para pemodal negara-negara kaya.

Para pemodal negara-negara kaya inilah terutama yang menjadi sponsor globalisasi. Sebab itu, mudah dimengerti bila penyebarluasan globalisasi hampir selalu berjalan beriringan dengan penyebarluasan neoliberalisme. Globalisasi sesungguhnya adalah kedok. Di balik kedok globalisasi bersembunyi agenda-agenda ekonomi neoliberal yang dimotori oleh para pemodal negara-negara kaya.

Baca lebih lanjut

Iklan

Apa Itu Neoliberalisme?

Sebagian besar masalah ekonomi yang dihadapi Indonesia selama ini tidak dapat dipisahkan dari pengaruh sebuah paham ekonomi yang dikenal sebagai neoliberalisme. Secara parsial, penerapan neoliberalisme di Indonesia sudah berlangsung sejak 1980-an. Hal itu antara lain ditandai dengan dilakukannya kampanye besar deregulasi dan debirokratisasi pada pertengahan 1980-an, dimulainya liberalisasi keuangan tahun 1987, serta dimulainya pelaksanaan privatisasi BUMN pada awal 1990-an.

Walaupun demikian, pelaksanaan agenda-agenda ekonomi neoliberal secara masif baru berlangsung setelah Indonesia mengalami krisis moneter pada pertengahan 1997. Menyusul keterlibatan Dana Moneter Internasional (IMF) dalam proses pemulihan ekonomi Indonesia, pemerintah sejak itu secara resmi mengamalkan neoliberalisme sebagai jalan baru dalam mengelola ekonomi Indonesia.

Jadi, apa yang dimaksud dengan neoliberalisme?

Baca lebih lanjut