Setiap Bid’ah Adalah Sesat ?

Mungkin, kata dalam Islam yang seharusnya begitu krusial namun sering disalahgunakan sehingga jadi destruktif adalah kata: Bid’ah. Berapa banyak kasus perpecahan ummat Islam sejak dulu kala sebab penyalahgunaan kata Bid’ah ini. Bahkan bisa jadi, telah menjadi semacam mindset dalam benak kita jika mendengar kata ini (bid’ah) yang terbayang adalah kesesatan, kesyirikan, dll.  Namun, apa sih sebenarnya bid’ah itu? Apa kita telah memahami dengan baik kata bid’ah itu sendiri, juga maksud hadits yang berbicara tentang bid’ah? Kami yakin pasti pembaca sudah sangat hafal hadits tentang bid’ah itu, sebab saking seringnya disampaikan, terutama oleh tukang-tukang pembid’ah itu. Kullu bid’atin dholalah, wa kullu dholalatin fin nar. Setiap bid’ah itu sesat dan setiap yang sesat itu di neraka. Simpel sekali, namun hadits ini adalah kaidah raksasa dalam syariah yang mesti dipahami dengan hadits-hadits lain bersangkutan dan dengan ruh syariah sendiri. Artinya tidak bisa langsung digunakan mentah-mentah secara tekstual begitu saja sebab bisa banyak sekali menimbulkan kesalahpahaman.

Pertama yang harus dipahami adalah bid’ah secara bahasa, yaitu segala hal yang baru. Entah itu baik, atau buruk, entah itu hal-hal duniawi atau agama. Karena apapun yang baru, disebut bid’ah. So, jika diartikan mutlak semuanya sesat, tentu kita kesulitan untuk hidup di masa ini. Sementara ruh syariat sendiri adalah sifatnya memudahkan, tidak mempersulit. Artinya hadits global, bid’ah itu ada penafsir yang lain. Dan penafsirnya juga hadits yang cukup populer, terdapat di hadits Arba’in Imam Nawawi, yaitu hadits man ahdatsa fi amrina hadza maa laisa minhu fahuwa rodd. Bahwa seseorang yang membuat hal baru dalam agama ini serta bukan bagian agama itu maka yang dia lakukan itu tertolak.

Dalam hadits ini pun ada kalimat yang harus dipahami dengan baik, yaitu kalimat “maa laisa minhu“.. Yang tak ada hubungan dengan agama. Nah oleh para ulama salaf kita, dari kedua hadits ini (dan satu hadits lagi yang sepertinya sengaja disimpan oleh tukang-tukang pembid’ah itu) dimunculkan definisi bid’ah secara syariah, yaitu: segala hal yang baru dalam agama dan tidak berlandaskan dalil umum dalam syariat. Pemahamannya, jika hal baru itu masih berlandaskan atas dalil umum, maka ia sama sekali tidak termasuk bid’ah. Dan hadits yang sengaja dihidden adalah hadits “man sanna sunnatan hasanatan fil Islam falahu ajruha wa ajru man amila biha”. Bahwa seseorang yang membuat hal baru yang bagus dalam Islam, maka dia mendapat pahalanya juga pahala orang yang mengikut melakukannya.

Nah dari rangkaian tiga hadits penting soal bid’ah ini akhirnya oleh para ulama’ disimpulkan bahwa bid’ah ada dua: hasanah dan sayyi’ah. Bid’ah hasanah adalah hal baru yang bagus, sementara bid’ah sayyi-ah adalah hal baru yang buruk. Nah yang sayyi-ah ini yang masuk kategori dholalah. Tetapi pembagian elegan ini oleh para fans pembid’ah itu ditolak mentah-mentah, sebab (kata mereka) Nabi tidak membagi bid’ah jadi dua. Bagi mereka, bid’ah ya bid’ah, sesat ya sesat, senang betul pokoknya kalau lihat saudaranya divonis nyemplung neraka. Tapi lucunya mereka juga terjebak dengan pemikirannya sendiri itu sebab mereka juga membagi bid’ah jadi dua, diniyyah dan duniawiyah. Nah pertanyaan baliknya? Apa Nabi pernah membagi bid’ah jadi diniyyah dan duniyawiyyah? Bid’ah agama bid’ah dunia? Ya sama aja kalau gitu. Kalau memang konsisten bahwa bid’ah ya bid’ah, nggak ada hasanah nggak ada sayyi-ah ya jangan bagi juga bid’ah jadi diniyyah & duniyawiyyah. Justru malah pernyataan mereka bahwa jika bid’ah agama itu sesat dan bid’ah dunia tidak apa, adalah bumerang yang sangat berbahaya sekali. Sebab hal-hal baru yang berhubung dengan dunia dan kehidupan sehari-sehari itu jelas sekali ada yang baik dan ada yang buruk. Kalau hal baru yang urusannya dengan dunia mutlak dikatakan boleh, berarti yang buruk boleh dong diambil? Nah jadinya malah kontras dan kacau.

So, pembagian terbaik dan terelegan adalah yang telah disampaikan para ulama salaf kita bahwa bid’ah ada dua, hasanah (baik) dan sayyi-ah (buruk). Karena baik hasanah atau sayyi-ah ini secara fenomenal di bawah keduanya masing-masing terbagi jadi dunia dan agama. Artinya jika hal baru itu baik agama ataupun dunia itu bagus, dan mempunyai dalil umum yang melandasinya, maka ia bisa diterima. Sebaliknya, jika hal baru itu baik agama atau dunia itu buruk, dan tak ada landasan dalil umum apapun, maka ia tertolak dalam syariat kita. Nah inilah yang dimaksud dholalah (sesat) dalam hadits Nabi itu. Dan meskipun seperti itu tidak sampai membuat kafir pelakunya.

Dan pembagian bid’ah ke hasanah dan sayyi-ah itu juga yang dipahami oleh Abu Bakr saat memutuskan penulisan alqur’an. Juga Umar bin Khattab saat memutuskan menjadikan shalat tarawih berjamaah tiap malam. Bahkan terang-teranganan beliau bilang ini bid’ah yang baik.  Atau juga komentar Ibn Umar soal sholat dhuha, itu bid’ah yang baik. Dan dilakukan oleh ummat sepanjang masa. Bisa jadi mereka (tukang pembid’ah itu) berkilah soal yang dilakukan Abu Bakr dan Umar, dengan hadits “alaikum bi sunnati wa sunnatil khulafa‘…” Berpeganglah pada “sunnah”-ku dan “sunnah” khulafa’ arrosyidin setelahku, gigit erat-erat dengan gigi geraham. Itupun lagi-lagi mereka mengalami kesalahan dalam memaknai kata “sunnah” dalam hadits itu. Sebab kata “sunnah” dalam hadits itu artinya adalah cara bersikap dalam suatu problem. Bukan sunnah dengan makna syariat. Sebab tentu saja para khalifah itu tidak membuat syariat baru lagi. Maka memahami hadits itu harus dengan kacamata fiqh tahawwulat.

Kesimpulannya, agar tidak salah memahami kata bid’ah, maka kita harus paham apa itu bid’ah secara terminologi dan etimologi. Juga memahami dengan baik korelasi erat tiga hadits soal bid’ah tadi yang tidak bisa saling dipisahkan sebab bisa menimbulkan gagal paham yang parah. Dan gagal paham soal bid’ah ini yang menimbulkan fitnah parah sepanjang sejarah. So jangan mudah pakai kata bid’ah sebelum betul-betul paham. Semoga mencerahkan dan jangan masuk gerombolan tukang pembid’ah yang pada dasarnya mereka sejatinya adalah pelaku bid’ah itu sendiri.

Kami tambahi soal bid’ah. Andai kata bid’ah dalam agama mutlak dikatakan sesat tanpa memahami 3 hadits itu. Maka 80% hukum yang terdapat dalam fiqih, hasil ijtihad para ulama’ itu akan runtuh total. Sebab hasil-hasil ijtihad yang terkodifikasi dalam 14 madzhab fiqh itu, seluruhnya tidak ada di zaman Nabi dan seluruhnya hal-hal baru. Tetapi hukum-hukum hasil ijtihad para ulama’ itu tidak termasuk bid’ah sebab berdasar atas ashl aam (dalil umum) yaitu Qur’an, hadits, ijma’, qiyas. Maka sekali lagi bid’ah yang sesat adalah hal-hal baru baik dalam agama atau dunia yang buruk, negatif, dan tak punya landasan dalil umum. Jika setelah tulisan “Setiap Bid’ah Adalah Sesat?” ini masih gagal paham, maka hasbunallah wa ni’mal wakil. Tugas telah tertunaikan.

إن أريد إلا الإصلاح ما استطعت وما توفيقي إلا بالله sumber: Mafahim Yajib an Tushohhah dan Manhajus Salaf fi Fahmin Nushus.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s