Amal Madinah atau Hadis, Mana Yang Didahulukan?

sadl

Terdapat sejumlah contoh menyolok dalam kitab Muwatta’ tentang sunnah (tradisi) yang lebih didahulukan daripada Hadis, walaupun Hadis yang dibicarakan dianggap sepenuhnya dapat dipercaya. Contoh-contoh berikut, di mana Imam Malik meriwayatkan Hadis yang menurutnya tidak seharusnya diamalkan, mengilustrasikan persoalan ini:

  • Imam Malik meriwayatkan dua Hadis yang makna eksplisitnya bahwa shalat harus dilakukan dengan tangan kanan memegang pergelangan tangan kiri (qabdh). Dalam kitab Muwatta’-nya, ia tidak berkomentar apa-apa tentang Hadis ini, tetapi dalam kitab Mudawwanah, Ibn al-Qasim meriwayatkan bahwa Imam Malik berkata: “Saya tidak tahu tentang praktik ini sejauh hubungannya dengan shalat-shalat yang diwajibkan, tetapi tidaklah dosa bagi seseorang yang melakukannya dalam shalat-shalat yang disunatkan (nawafil) jika ia telah berdiri dalam waktu yang lama agar segala sesuatunya lebih mudah bagi dirinya sendiri. Rawi kitab Mudawwanah, Sahnun, juga mencatat sebuah Hadis yang kurang lebih menyatakan bahwa sejumlah Shahabat telah meriwayatkan melihat Nabi melakukan shalat dengan tangan kanannya diletakkan di atas tangan kirinya. Meskipun Hadis ini dan riwayat-riwayat serupa terdapat dalam kitab Muwatta’, tetapi madzhab kitab Mudawwanah, yang menjadi sumber utama bagi golongan Maliki belakangan, seperti disimpulkan dalam Mukhtasar Khalil, menyatakan bahwa shalat dengan kedua tangan diletakkan di samping kedua pinggang lebih banyak dipraktikkan di seluruh tempat, karena ia adalah tradisi yang paling dominan. Cara mengerjakan shalat semacam ini juga dilakukan oleh al-Laits Ibn Sa’d, disepakati oleh Ibrahim an-Nakha’i, Ata’ Ibn Abi Rabah dan al Auza’i dan juga diriwayatkan dari sumber-sumber penting lainnya seperti Sa’id Ibn al-Musayyab, Sa’id Ibn Jubair, al Hasan al Bashri, Ibn Sirin dan Ibn Juraij. Terutama menarik untuk diperhatikan bahwa praktik ini, meskipun ditolak oleh seluruh madzhab Sunni yang ada lainnya, juga berlaku dalam kelompok Zaidiyyah, Syi’ah Itsna Asy’ariyyah dan Isma’iliyyah serta Ibadhiyyah, yang karenanya mendukung argumen bagi sumber ‘kuno’ (yaitu profetik) dari tradisi ini, dan tidak tepat menolak praktik ini hanya dengan alasan serupa dengan praktik Syi’ah, karena perbedaan-perbedaan antara kelompok-kelompok ini dan kelompok Muslim terbesar muncul pada masa yang jauh lebih awal dan dalam persoalan-persolan aqidah dan otoritas politik daripada dalam persoalan fiqih. Tidak ada alasan bagi mereka untuk membuat-buat persoalan fiqih yang mendetail semacam itu dan kesimpulan yang paling tepat adalah bahwa mereka hanya meneruskan sebuah tradisi yang telah berlaku.
  • Contoh lain di mana Imam Malik kelihatannya menentang sebuah Hadis adalah persoalan mengangkat kedua tangan dalam shalat. Dalam bab ‘Pasal Permulaan Shalat’, Imam Malik meriwayatkan sebuah Hadis melalui Salim dan Ibn ‘Umar yang kira-kira menyatakan bahwa Nabi biasa mengangkat kedua tangannya ketika mengucapkan ‘Allahu Akbar’ baik pada permulaan shalat maupun ketika selesai rukuk, serta Hadis lain melalui Nafi’ yang kira-kira menyatakan bahwa Ibn ‘Umar biasa melakukan hal yang sama.

Walaupun dalam kitab Muwatta’ tidak terdapat Hadis yang secara eksplisit menyatakan sebaliknya, tetapi menurut Ibn al-Qasim dalam kitab Mudawwanah, Imam Malik berpandangan bahwa seseorang hanya boleh mengangkat kedua tangannya pada awal shalat, yaitu ketika melakukan takbir pertama (takbirah al-ihram). Sekali lagi, seperti halnya di atas, Imam Malik menggunakan kalimat, ‘Saya tidak mengetahui tentang (praktik) ini’, sambil menambahkan kalimat pengecualian ‘Kecuali dalam takbirah al-ihram’.

Meskipun Imam Abu Hanifah dan ulama Kufah memiliki pandangan yang sama seperti ulama Madinah dalam persoalan ini, dengan mendasarkan argumen mereka pada riwayat-riwayat dengan kandungan yang sama yang berasal dari ‘Ali dan Ibn Mas’ud melalui Ibrahim an-Nakha’i, tetapi Imam asy-Syafi’i memiliki pandangan yang berbeda, yaitu bahwa seseorang harus mengangkat kedua tangan mereka baik sebelum maupun setelah berdiri dari rukuk serta pada permulaan shalat, dengan mendasarkan argumennya pada Hadis yang telah disebutkan di atas dan pada saat yang sama menuduh ulama Madinah tidak konsisten karena telah meriwayatkan Hadis ini tetapi tidak mengamalkannya.

Oleh karena itu hal ini kelihatan menjadi sebuah contoh yang jelas, seperti ditunjukkan oleh Ibn Rusyd, dari sikap Imam Malik yang meriwayatkan sebuah Hadis tetapi menolak isinya karena ia tidak sesuai dengan tradisi.

  • Terdapat sejumlah contoh dalam kitab Muwatta’ di mana Imam Malik meriwayatkan sebuah Hadis dan kemudian secara khusus menyatakan bahwa tradisi berbeda dengan kandungan Hadis tersebut. Salah satu contoh yang paling tepat dari hal ini adalah Hadis tentang khiyar al-majlis (hak untuk membatalkan sebuah jual-beli di mana penjual dan pembeli masih belum terpisah) yang ia riwayatkan dari Nafi’ dari Ibn ‘Umar yang di dalamnya Nabi mengatakan, ‘Penjual dan pembeli memiliki hak untuk membatalkan (akad jual-belinya) selama mereka belum berpisah, kecuali dalam bai’ al-khiyar’, yang kemudian setelahnya dikomentari oleh Imam Malik, ‘Tidak ada batasan tetap bagi hal ini dan tidak ada praktik satu pun yang telah berlaku dalam hubungannya dengan hal ini’. Imam asy-Syafi’i, dengan berpegang pada Hadis ini berpandangan bahwa jual beli hanya akan bersifat mengikat ketika salah satu atau kedua pihak dari penjual dan pembeli telah meninggalkan tempat dilaksanakannya akad, daripada ketika masa akad sedang berlangsung. Sedangkan Imam Malik dan Imam Abu Hanifah berpandangan bahwa perintah-perintah umum al-Quran untuk menghormati akad-akad seseorang (misalnya QS. 2:177, 3:76, 75:1, dan 17:34) telah membatalkan Hadis yang hanya merujuk pada seorang Shahabat (akhbar al-ahad) semacam itu, betapa pun kuat isnad mereka.
  • Contoh lainnya, baik para ulama Madinah dan Irak menolak sebuah Hadis yang mana Imam asy-Syafi’i memutuskan untuk mengikutinya adalah riwayat ‘Aisyah tentang sebuah ayat al-Quran – di mana ia mengatakan, ‘masih dibaca pada saat Nabi wafat’ – yang menunjukan bahwa saudara-saudara sesusuan ditentukan oleh setidaknya lima susuan daripada sepuluh sesusuan yang semula. Imam Malik mengutip Hadis ini (bersamaan dengan Hadis lainnya yang menunjukan bahwa baik lima atau sepuluh susuan menentukan saudara sesusuan , walaupun ia juga menyebutkan riwayat-riwayat yang menunjukan bahwa pandangan ‘Aisyah adalah sebuah pengecualian), tetapi kemudian menambahkan bahwa tradisi di Madinah berbeda dengan hal ini. Tetapi ia berpandangan, bersama dengan kelompok Irak, bahwa satu susuan pun akan menyebabkan terjadinya hubungan-hubungan sesusuan (selama sang anak masih di bawah umur dua tahun), yang karena itu ia lebih mendahulukan, bersama dengan ulama awal, makna umum hukum al-Quran yang relevan – yaitu QS. 4:23; ‘Dan (dilarang bagi kamu untuk menikahi) ibu-ibu kamu yang telah menyusui kamu’ – daripada sebuah Hadis yang hanya merujuk ke belakang pada sebuah Shahabat (khabar al-wahid) yang tidak didukung oleh tradisi. Terutama lagi, riwayat itu bersifat ambigu mungkin untuk menerima klaim ‘Aisyah bahwa ayat itu masih dibaca sebagai bagian dari al-Quran ketika masa Nabi wafat dengan pengertian bahwa ayat ini masih belum dinasakh (dibatalkan), tetapi hal ini juga dapat berarti bahwa ia telah dinasakh tetapi tidak setiap orang telah mendengarnya pada saat ayat ini dinasakh. Oleh karena itu mereka masih tetap membacanya. Lebih-lebih lagi, al-Quran hanya dapat diriwayatkan secara tawatur, sedangkan Hadis ini adalah sebuah khabar wahid. Makna zahir (makna jelas, eksplisit) dari riwayat ini telah menyesatkan, dan komentar Imam Malik, ‘Ini tidak diamalkan di sini’ adalah semata-mata sebuah cara untuk mengingatkan orang-orang untuk tidak hanya mengambil makna yang zahir saja.

Kesimpulan penting yang dapat ditarik dari contoh-contoh ini (dan banyak contoh lainnya) adalah bahwa meskipun sumber-sumber tekstual dari al-Quran dan Hadis ditempatkan pada posisi yang paling atas oleh Imam Malik, tetapi sumber-sumber tersebut, merupakan sumber-sumber yang tidak berdiri sendiri atau sumber tambahan yang di dalamnya mereka diuji berdasarkan konteks semantik dari tradisi. Oleh karena itu adalah sumber nontekstual dari tradisi yang menjadi sumber utama, dan bahkan memberikan otoritas yang lebih kuat. Sekali lagi, Imam Malik mengkaji Hadis berdasarkan latar belakang tradisi Madinah, sedangkan orang-orang yang tidak sependapat dengannya (khususnya kelompok Irak – diwakili oleh Abu Yusuf dan asy Syaibani – dan Imam asy Syafi’i) mengkaji Madinah berdasarkan latar belakang Hadis, dan kedua pendekatan ini, tampak dengan jelas dari contoh-contoh di atas, seringkali bertentangan antara yang satu dengan yang lainnya.

Dengan demikian tradisi lebih didahulukan atas Hadis oleh kelompok Madinah. Bagian yang dikutip dari Ibn Qutaybah dalam Kitab Ta’wil Mukhtalif al-Hadis berikut ini memberikan sebuah kesimpulan yang komprehensif tentang kenapa:

Menurut pendapat kami, kebenaran tampak lebih ditentukan oleh tradisi daripada oleh riwayat Hadis. Hadis bisa jadi menjadi lahan kelupaan, kesalahan, ketidakpastian, beragam kemungkinan penafsiran-penafsiran, dan pembatalan; seorang yang jujur mungkin meriwayatkan dari seseorang yang tidak jujur; bisa jadi terdapat dua perintah yang berbeda yang kedua-duanya bersifat mungkin, seperti melakukan satu atau dua taslim (pada akhir shalat). Begitu juga, seseorang mungkin saja hadir ketika Nabi Saw. memberi sebuah perintah tertentu kemudian ia tidak hadir ketika beliau mengatakan (pada orang-orang) untuk melakukan sesuatu yang berbeda: orang itu kemudian akan meriwayatkan perintah yang pertama bukan yang kedua, sebab ia tidak mengetahuinya. Akan tetapi, ijma’ bebas dari kemungkinan semacam itu. Itulah kenapa Imam Malik, semoga Allah meridhainya, kadang-kadang meriwayatkan sebuah Hadis yang berasal dari Nabi Saw, tetapi kemudian ia berkata, ‘Tradisi yang berlaku di kota kami adalah demikian-dan-demikian’ sambil menyebutkan sesuatu yang berbeda dengan Hadis itu. Ini disebabkan karena kotanya adalah kota Nabi Saw. dan jika tradisi pada masanya telah mencakup sebuah praktik yang demikian-dan-demikian, maka tradisi itu akan menjadi tradisi dari generasi ke generasi – dan adalah tidak mungkin bahwa seluruh masyarakat berhenti melakukan sesuatu yang seluruh mereka melakukan pada masanya (Imam Malik) dan kemudian melakukan hal lain yang berbeda – dan satu generasi dari satu generasi adalah memiliki jumlah yang lebih banyak daripada satu orang dari satu orang. Bahkan, masyarakat telah meriwayatkan banyak Hadis dengan rangkaian perawi yang bersambung (muttasilah) dan kemudian tidak mengamalkannya.

Ibn Rusyd (al-Jadd) memberikan komentar yang serupa dalam komentarnya terhadap kitab ‘Utbiyyah:

Bagian yang diketahui secara baik dari madzhab Malik adalah bahwa tradisi di Madinah lebih didahulukan atas Hadis yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi dari golongan Shahabat yang terpercaya. ( Hal ini terjadi) karena Madinah adalah tempat Nabi Saw. hidup dan wafat di sana, dan tempat para Shahabat berada (bersamanya). Oleh karena itu sangat tidak mungkin sebuah Hadis tidak diketahui oleh mereka seperti tidak mungkin terdapat sebuah praktik dari para Shahabat yang diteruskan oleh orang-orang setelahnya yang bertentangan dengan sebuah Hadis kecuali mereka mengetahui bahwa (Hadis itu) telah dibatalkan (naskh). Begitu juga, qiyas dalam pandangan Imam Malik, didahulukan dari Hadis al-ahad jika tidak mungkin untuk mengkompromikan keduanya. Hujjah dari hal ini adalah bahwa Hadis al-Ahad bisa jadi merupakan lahan pembatalan, kesalahan, kelupaan, kealpaan, atau mungkin hanya berhubungan dengan persoalan-persoalan yang khusus. Sedangkan qiyas hanya bisa diragukan dari satu sisi yaitu apakah alasan bagi qiyas itu (antara dua keadaan) benar-benar sama atau tidak. Oleh karena itu ia dipandang lebih kuat dari Hadis al-ahad dan lebih didahulukan dari mereka.

Oleh karena itu Imam Malik dan kelompok Madinah berpandangan bahwa tradisi adalah petunjuk yang lebih baik bagi sunnah, sedangkan kelompom Irak dan belakangan, Imam asy-Syafi’i, berpandangan bahwa sunnah yang otentik, adalah sunnah yang didukung oleh riwayat-riwayat yang otentik dan bahwa tradisi tidak dapat diterima kecuali ia didukung oleh riwayat-riwayat semacam itu. Dengan kata lain, mereka memandang bahwa sebuah sumber tekstual yang sumbernya dapat diketahui dengan pasti harus didahulukan atas sumber non-tekstual yang sumbernya tidak diketahui secara pasti. Tetapi, menurut Imam Malik, bukan Hadis yang menjadi sumber utama dari sunnah normatif, melainkan tradisi. Bahkan Imam Malik, seperti yang kami sebutkan, menilai Hadis berdasarkan kriteria tradisi yang dapat dikatakan bahwa ia menilai Hadis dengan merujuk pada Sunnah daripada menilai sunnah dengan merujuk pada Hadis.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s