Benarkah Uang Kertas Haram? (KONTROVERSI)

Tidak dipungkiri, penyebaran dan penggunaan uang kertas sudah merata dalam semua muamalat jual-beli sekarang ini. Hampir semua umat Islam menggunakannya dengan sukarela tanpa pernah mengkritisi apa dan bagaimana hakikat uang kertas yang sesungguhnya. Kemudian ditambah dengan banyaknya ulama kontemporer yang memberikan fatwa ‘halal’nya uang kertas semata-mata menggunakan qiyas tanpa memikirkan akibat yang lebih jauh dari kerusakan yang akan ditimbulkan bagi kaum muslimin dari penggunaan uang kertas yang sesungguhnya tidak berharga ini.

Beberapa argumen yang mereka sampaikan diantaranya adalah bahwa Dinar dan Dirham termasuk fi’il ‘adat atau kebiasaan di masa Rasulullah, bukan sunnah atau bahkan wajib. Jadi, perbuatan beliau memakai Dinar dan Dirham di masanya karena adat setempat. Bukan qurbah atau ibadah. Kemudian, keberadaan uang kertas menyediakan alternatif transaksi yang lebih mudah daripada barter yang lebih kompleks, tidak efisien, dan kurang cocok digunakan dalam sistem ekonomi modern, karena membutuhkan orang yang memiliki keinginan yang sama untuk melakukan pertukaran dan juga kesulitan dalam penentuan nilai. Efisiensi yang didapatkan dengan menggunakan uang kertas pada akhirnya mendorong perdagangan dan pembagian tenaga kerja yang kemudian akan meningkatkan produktivitas dan kemakmuran.

Berikut akan kami sampaikan pula beberapa fatwa ulama kontemporer, diantaranya adalah keputusan Muktamar ke-3 Organisasi Kerjasama Islam yang diselenggarakan di Amman, Yordania pada 1986, yang berbunyi, “Majelis Lembaga Fikih Islam menetapkan bahwa uang kartal mempunyai kriteria tsamaniyyah (harga/nilai). Hukumnya sama dengan hukum-hukum yang telah dijelaskan syariat tentang emas dan perak. Riba dapat terjadi pada uang kartal. Uang kartal terkena zakat dan dapat dijadikan modal dalam akad salam, serta seluruh hukum-hukum yang telah ditentukan.” (Journal Islamic Fiqh Council edisi III, jilid III, hal. 1650).

Hasil keputusan para ulama se-dunia yang tergabung dalam Rabithah Alam Islami (Muslim World League) dalam Muktamar V di Mekkah pada 1982, dinyatakan bahwa emas dan perak yang merupakan mata uang utama di masa Nabi Shalallaahu ‘alaihi wa sallam dapat disamakan dengan mata uang sekarang.

Fatwa Hai’ah Kibar Ulama di Kerajaan Saudi Arabia, Al-Majma’ al-Fiqhi di Makkah, yang berafiliasi kepada Kongres Muktamar Islam (OKI). (simak majalah al-Buhuts al-Islamiyyah No. 31 hal. 376, keputusan No. 10, majalah Mujamma’ al-Fiqhi al-Islami No. 3 juz 3, keputusan keenam Mujamma’ al-Fiqhi al-Islami di Makkah hal. 1893 dan keputusan No. 9 Mujamma’ al-Fiqh al-Islami dalam daurah-nya yang ketiga di Oman hal. 1965 dan lihat juga hal. 1935, 1939 dan 1955) Menyatakan bahwa uang kertas adalah alat pembayaran independen yang berdiri sendiri, berlaku padanya semua hukum alat tukar yang berlaku pada emas dan perak. Setiap mata uang dianggap sebagai satu jenis yang independen.

Beberapa pendapat dan fatwa di atas telah menjadi pegangan dan ketetapan hampir semua umat muslim di dunia saat ini.

Sejarah  Uang Kertas

Untuk memahami lebih mendalam tentang uang kertas, substansi dan posisi hukumnya, perlu diuraikan terlebih dahulu dari mana asal-asul uang kertas itu sendiri. Untuk sampai kepada bentuk terakhir sebagaimana yang dikenal hari ini, uang kertas mengalami perubahan seiring perjalanan zaman, setidaknya dalam tiga tahap dan bentuk yang berbeda.

Tahap pertama, uang kertas muncul sebagai kuitansi atau bukti utang, yang dikeluarkan oleh satu pihak (dalam hal ini pandai emas dan perak), yang dapat ditebuskan kembali menjadi koin emas dan perak milik yang bersangkutan. Karena itu, uang kertas ini disebut promissory note. Dalam hukum Islam, janji utang disebut dayn. Janji utang, tidak dapat dipakai sebagai alat jual-beli karena pembayaran dengan dayn yang berarti tidak kontan. Pada satu titik pengeluaran janji utang itu oleh pemerintah diberikan sebagai hak monopoli kepada satu pihak saja, yaitu Bank Sentral. Maka, janji utang yang semula bersifat privat (antara pemilik harta dan pihak yang mengeluarkannya) kini menjadi publik, dipaksakan berlaku umum.

Tahap kedua, para bankir yang sekarang telah memegang hak monopoli itu secara sepihak mengubah uang kertas itu, dari bentuknya sebagai janji utang, menjadi uang kredit, yaitu ketika uang kertas tidak lagi bisa ditebuskan kembali menjadi koin emas atau perak, milik perseorangan. Meskipun setiap kali mencetak uang kertas bankir (saat itu) masih tetap menjaminnya dengan emas batangan, inilah yang disebut sebagai sistem standar emas.

Semua dimulai pada 1933, sesudah Amerika mengalami depresi ekonomi hebat, dan rakyatnya dilarang memiliki emas batangan, kecuali dengan cara membelinya dengan harga lebih mahal. Setiap 1 troy ounce (31,1 gram) emas ketika dirampas oleh bank sentral AS (1933) dibeli seharga 20 dolar AS. Saat uang kertas dolar AS baru diterbitkan (1934) rakyat Amerika yang hendak memiliki emas harus membayarnya kembali seharga 35 dolar AS/ troy ounce.

Di Indonesia uang rupiah pertama, yaitu Oeang Republik Indonesia (ORI) yang diterbitkan oleh BNI 46 pun merupakan uang berstandar emas. Pemerintah menjamin bahwa setiap Rp. 10,- yang dikeluarkan oleh BNI 46 setara dengan 5 gram emas.

Tahap ketiga, ketika kaitan antara emas dan uang kertas dicabut, sejak tahun 1971. Bank sentral dapat mencetak uang kertas sesuai kehendaknya, tanpa harus memberikan dukungan komoditas apapun. Sepenuhnya uang kertas menjadi uang fiat, yang memiliki nilai dan diterima sebagai alat tukar, sepenuhnya karena dipaksakan melalui undang-undang tentang uang. Perlu diketahui bahwa bank-bank sentral ini umumnya bukan bagian dari pemerintah, melainkan perusahaan swasta.

Hubungan antar-uang kertas pun, misalnya antara dolar AS dan rupiah, antara rupiah dan euro, atau antara ringgit dan rubel, dan seterusnya, tidak lagi ditetapkan oleh pemerintah, tetapi mengikuti kemauan para pedagang uang (valuta asing). Hal ini dikenal sebagai floating exchange rate (sistem kurs mengambang). Jadi, seluruh sistem finansial dan moneter saat ini sepenuhnya dikendalikan oleh para bankir, dan spekulan uang, seperti sosok George Soros, yang sebenarnya juga tampil hanya sebagai boneka aktor sebenarnya, yaitu para bankir.

Sebagai uang fiat, melalui sistem perbankan, uang kertas bahkan tidak lagi diperlukan karena mengalami transformasi berikut menjadi byte elektronik. Dengan kartu kredit, kartu debit, “kartu flash”, melalui transaksi di mesin anjungan tunai mandiri (ATM), dan transfer elektronik, transaksi dilakukan sepenuhnya hanya dengan byte elektronik. Keterlibatan uang kertas yang diterbitkan oleh bank sentral menjadi sangat kecil, boleh jadi tak sampai 10%, dari seluruh transaksi maya ini. Selebihnya, hampir 90% hanyalah gelembung riba. Pada tahap ini, sistem riba telah sampai pada tahap akhirnya, setelah terus menerus menggelembung, sampai disatu titik nanti pasti akan meledak.

fiatmoney

Mengapa uang kertas haram?

Pertama, secara ekonomi politik sistem uang kertas merupakan mekanisme perampokan yang dilakukan oleh segelintir orang atas semua orang lain yang menggunakan uang kertas tersebut. Namun, hampir tidak ada yang melihatnya karena perampokan ini dilakukan secara sistematis dan dilegalisir melalui undang-undang mata uang nasional atau Legal Tender Law. Makna dari sistem ini, yaitu pemberian hak monopoli kepada satu pihak, dalam hal ini Bank Sentral untuk menerbitkan dan mengedarkan uang kertas, senilai dan sebanyak yang mereka suka. Seluruh negara kemudian diwajibkan untuk hanya menggunakan uang kertas bersangkutan sebagai alat tukar sehari-hari.

Akibat dari pencetakan uang kertas yang terus menerus, dengan tanpa jaminan komoditas apapun sebagaimana pada awal uang kertas itu diciptakan (uang kertas didukung oleh emas atau perak) adalah inflasi yang terus menerus. Dalam kehidupan sehari-hari apa yang dirasakan oleh masyarakat, yaitu harga barang dan jasa yang terus-menerus naik. Akan tetapi, nilai tukar barang-barang sebenarnya tidaklah berubah, yang berubah adalah nilai tukar mata uang kertasnya yang terus-menerus merosot karena pencetakan dan perputarannya yang tak terbatas. Pencetakan dan peredaran uang kertas itu sendiri, saat ini sepenuhnya berbasiskan kepada utang: uang kertas itu sendiri adalah ‘uang kredit’. Inflasi, tidak lain merupakan pemajakan paksa yang dilakukan oleh perbankan kepada seluruh penduduk.

Bukan hanya itu. Sistem uang kertas, dengan motor penggeraknya sistem perbankan karena tidak memiliki dukungan asset apapun, di satu titik akan meledak. Hal ini secara matematis dapat diperhitungkan, hanya saat kehancurannya saja yang tidak dapat dipastikan. Namun, secara empiris, semua telah berkali-kali mengalaminya, yang belakangan disebut-sebut sebagai “Krisis Moneter”. Setiap kali “Krisis Moneter” terjadi maka semakin besar dampaknya, sampai nanti tiba krisis lain, mungkin yang terakhir, yang meruntuhkan semuanya, hingga situasi tidak tertolong lagi.

Kedua, secara legal, dari sudut pandang Hukum Islam, sistem uang kertas tidak lain merupakan sistem riba. Mengingat nilainya hanyalah sebesar nilai intrinsik kertasnya, yang tentu saja tak seberapa, dan penggunaannya yang dipaksakan, uang kertas melanggar beberapa rukun dan syarat dasar perdagangan. Pertama-tama Allah Ta’ala menyatakan bahwa dasar pertama perdagangan adalah sukarela, dan itu termasuk dalam pemilihan alat tukar. Syarat kedua dalam pertukaran sukarela ini barang yang dipertukarkan haruslah “setara dengan setara”. Artinya, baik barang yang diserahkan maupun alat tukar yang digunakan harus memiliki nilai intrinsik. Syarat ketiga sahnya perdagangan, yaitu transaksi harus dilakukan secara kontan. Baik barang maupun alat tukarnya harus diserahterimakan pada saat yang bersamaan, tidak boleh salah satunya ditangguhkan.

Substansi uang kertas, sebagaimana sebelumnya dijelaskan secara ringkas, menjadikannya tidak dapat memenuhi ketiga syarat jual beli tersebut. Uang kertas sebagai alat tukar, tidak bersifat sukarela, tidak memiliki kesetaraan nilai dengan barang yang dipertukarkan, dan tidak memberikan pembayaran tunai. Dengan lain perkataan, secara ringkas, uang kertas adalah riba, yaitu riba al-fadl, yakni riba yang timbul akibat penambahan nilai yang tidak dibolehkan (dalam hal ini direfleksikan sebagai nilai nominal uang kertas) dan riba an-nasi’ah, yakni riba yang timbul akibat penangguhan pembayaran yang dilarang (karena uang kertas adalah nota utang atas sejumlah harta tertentu, yang saat ini utang itu pun bahkan tidak lagi diakui oleh penerbitnya).

Terus apa solusinya?

Salah satu hal terpokok sistem riba, bahkan bisa dikatakan esensi riba, adalah sistem uang fiat sebagaimana telah dijelaskan di atas. Solusinya adalah kembali digunakannya alat tukar yang halal, yang dapat berupa komoditas apa saja yang memenuhi syarat dan rukun untuk dapat digunakan sebagai alat tukar. Contohnya adalah emas, perak, gandum, kurma, dan garam.

Meskipun sebagai alat tukar atau uang berbagai jenis komoditi dapat digunakan, emas dan perak adalah yang terbaik, dan paling universal. Berbagai ketentuan dalam syariat Islam berkaitan dengan penggunaan emas dan perak ini juga cukup detil dapat ditemukan dalam kitab-kitab fiqih muamalat. Di sini hanya akan ditambahkan beberapa hal teknis mengenai Dinar, Dirham dan Fulus.

Dinar adalah koin emas berkadar 24 karat dengan berat 4,4 gram (Syaikh Dr. Yusuf Qardhawi dan Syaikh Utsaimin mengacu pada nisab 20 dinar dengan satuan 4.25 gram dengan syarat dari emas yang di zakati adalah emas murni). Sedangkan Dirham adalah koin perak murni dengan berat 3,11 gram. Sedangkan untuk pecahan terkecil adalah daniq (1/6 dirham) yaitu perak murni dengan berat 0,52 gram. Standar berat Dinar dan Dirham telah ditetapkan oleh Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam pada 1 Hijriyah, dan kemudian ditegakkan oleh Khalifah Umar bin Khattab pada 18 Hijriyah, saat untuk pertama kalinya Khalifah Umar mencetak koin Dirham. Sedangkan orang yang pertama kali mencetak Dinar emas Islam adalah Khalifah Malik bin Marwan pada 70 Hijriah, dengan tetap mengacu kepada ketentuan dari Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam maupun Umar bin Khattab, yaitu dalam rasio berat 7/10 (7 Dinar berbanding 10 Dirham).Adapun Fulus adalah alat tukar recehan, terbuat dari tembaga atau campuran logam lainnya, yang digunakan secara terbatas untuk nilai di bawah koin perak terkecil yang tersedia (saat ini koin Dirham terkecil ada pada satuan 1 daniq atau 1/6 Dirham). Nilai Fulus dikaitkan dengan Dirham, yaitu setiap 1 Dirham bernilai 100 Fulus, atau 1 Fils adalah 1/100 Dirham.

Dinar, Dirham dan Fulus telah digunakan oleh umat Islam sepanjang masa dari zaman Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam sampai awal abad ke-20, dan berhenti digunakan bersamaan dengan berhentinya Daulah Islam. Berhentinya penggunaan Dinar, Dirham dan Fulus juga menandakan berhentinya muamalat, dan berhentinya syariah Islam secara keseluruhan. Seluruh hukum Islam yang berkaitan dengan nilai, harga, transaksi, dan paling penting di antaranya adalah zakat maal, tidak dapat dilaksanakan tanpa Dinar dan Dirham. Berhentinya muamalat dan zakat menandakan bermulanya sistem kehidupan yang sepenuhnya berbasis pada riba.

Terakhir, saya mengajak kepada pembaca, kepada umat islam, mari bersama-sama menegakkan muamalah yang halal, kita perkecil ruang gerak riba yang sudah sedemikan zalim ini, dimulai dengan memiliki Dinar atau Dirham dan mulai memakainya (bukan sebagai jadi instrumen investasi seperti yang dilakukan oleh sebagian orang) dalam transaksi jual-beli, hibah, sedekah, dan zakat, agar Dinar dan Dirham ini dapat tersebar di masyarakat. Kami tau tidak mudah lepas dari uang kertas ini, bahkan Rasulullah telah bersabda bahwa seseorang yang tak makan riba pun akan terkena debunya. Karenanya, kita bisa mulai selangkah demi selangkah, Dinar dan Dirham bukanlah tujuan. Tujuan kita adalah tegaknya syariat. Tujuan kita adalah mencari wajah Allah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s