Cara Membaca Al-Qur’an Riwayat Warsh

Qiraah Warsh berasal dari cara baca Nafi’ bin Abdur-Rahman ibnu Nu’aim dari Madinah yang meninggal di kota tersebut pada 169 H, dari Abdur Rahman ibnu Mur uz al A’raj (Si Lumpuh) dan Shiba ibnu Nisah al Qadi (Sang Hakim) dan Muslim ibnu Jundub al Hudhali yang merupakan maula mereka dan Yazid ibnu Ruman dan Abu Ja’far Yazid bin Al Qa’qa al Qari (Qari) dari Abu Hurairah dan Ibnu Abbas dan Abdullah ibnu Ayyash ibnu Abi Rabi’ah dari Ubay bin Ka’ab dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam. Kendati semua qira’ah sama benar dan saling memperkaya, tetapi yang dibaca sehari-hari di Madinah oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dan para Sahabat, tetap merupakan yang utama dari sudut otoritas dan makna.

Dari “Tujuh” qira’ah mutawatir yang diakui secara umum (sebagaimana, misalnya, dalam Kitab as-Sab’ah fi al-Qira’ah karya Ibnu Mujahid), qira’ah Nafi’ adalah satu-satunya qira’ah Madinah. Qira’ah Madinah lainnya, yaitu qira’ah Abu Ja’far Yazid Ibn al-Qa’qa (pembaca al-Qur’an terkemuka di Madinah hingga wafatnya pada 130 H. Ketika tempatnya digantikan oleh Nafi’), dimasukkan ke dalam qira’ah-qira’ah yang ‘Tujuh’ oleh, misalnya Ibnu al-Jazari dalam kitabnya Nasyr.

Penghargaan yang tinggi terhadap Nafi’ sebagai seorang ahli qira’ah al-Qur’an terefleksikan dalam komentar Imam Malik, ketika ia ditanya mengenai seluk-beluk teknik qira’ah al-Qur’an, “Bertanyalah kepada Nafi’, setiap cabang pengetahuan memiliki para ahlinya sendiri yang kepada mereka pertanyaan-pertanyaan seharusnya ditujukan, dan Nafi’ adalah imam dari semua hal yang berkaitan dengan qira’ah al-Qur’an.” (Qamhawi, Tarajim, hlm 10; adz-Dzahabi, Ma’rifah, hlm. 108)

Imam Malik memandang qira’ah Nafi’ sebagai sunnah dan karenanya merupakan cara membaca al-Qur’an yang lebih di dahulukan (Ibnu Mujahid, hlm.62; adz-Dzahabi, Ma’rifah, i. 108; Gayah, ii. 331; Nasyr, i. 112). Karakteristik normatif dari qira’ah Nafi’ tampak jelas dalam sebuah riwayat yang dikutip oleh Ibnu Mujahid (hlm. 61-62) di mana Nafi’ menjelaskan bahwa ia akan menerima macam-macam bacaan (huruf) yang setidaknya disepakati oleh dua orang dari para gurunya dan akan menolak mereka yang hanya diajarkan oleh satu dari para gurunya dan karenanya, qira’ah-nya hanya tersusun dari beragam bacaan yang telah disepakati semacam itu.

22046004_2086978561531420_8223182625048388909_n

Sanad Qira’at Imam Warsh an Nafi’ ibn Abi Nuaym Al-Madani dari Tariq Imam Al-Azraq

Kaidah Dalam Bacaan Riwayat Warsh

1. Membaca Basmalah dan tanpa Basmalah (saktah dan wasol) antara dua surah kecuali antara surah al-Anfal dan at-Taubah.

Dalil as-Syatibi dalam bab Basmalah :

وَصِلْ وَسْكُتَنْ كُلٌ (جَ)لَا يَاهُ حَصَّلَا

وَفِيهَا خِلَافٌ (جِ)يْدُهُ وَاضِحُ الطُّلَا

 

2. Menghazafkan (buang) alif pada kalimah (مالك) di dalam surah al-Fatihah saja menjadi (ملك).

Dalil as-Syatibi dalam bab Ummul Quran :

وَمَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (رَ)اوِيهِ (نَ)اصِرٌ

 

3. Membaca dengan silah mim jama’ sekiranya setelah mim jama’ terdapat huruf hamzah Qato’.

Contohnya :

(عَلَيْهِمْ ءَانذَرْتَهُمْ ) dibaca (عَلَيْهِمُوآ ءَانذَرْتَهُمْ ) dengan kadar 6 harakat madnya.

Dalil as-Syatibi dalam bab Ummul Quran :

وَمِنْ قَبْلِ هَمْزِ الْقَطْعِ صِلْهَا لِ(وَرْشِ)هِمْ

 

4. Pada mad munfasil seperti (يا أيها الذي) dan mad muttasil seperti (جاء) , Warsh membaca dengan 6 harakat madnya.
Dalil as-Syatibi dalam bab al-Mad wal Qasr :

فَاِنْ يَنفَصِلْ فَالْقَصْرَ بَادِرْهُ طَاِلبًا بِخُلفِهِمَا يُرْوِيك دَرًّا وَمُخضَلا

كَجِىءَ وَعَنْ سُوءٍ وَشَاءً اِتِّصَلُهُ وَمَفْصُولُهُ فِىِ أُمِّهَا أَمْرُهُ إِلَى

 

5. Pada mad badal (الأَخِرَة ، ءَامَنَ ) Warsh membaca dengan tiga wajah madnya iaitu 2,4 dan 6 harakat.

Dalil as-Syatibi dalam bab al-Mad wal Qasr :

وَمَا بَعْدَ هَمْزٍ ثَابِتٍ أَوْ مُغَيَّرٍ فَقَصْرٌ وَقَدْ يُرْوَى لِ(وَرْشٍ) مُطَوَّلَا وَوَسَّطَهُ

 

6. Pada mad lin yang diujung kalimah tersebut terdapat huruf hamzah seperti (شَيْئًا ، شَيْء ) dan yang semisal dengannya, Warsh membaca dengan 2 wajah yaitu 4 dan 6 harakat madnya.

Dalil as-Syatibi dalam bab al-Mad wal Qasr :

وَإِنْ تَسْكُنِ الْيَا بَيْنَ فَتْحٍ وَهَمْزَةٍ بِكِلْمَةٍ اوْ وَاوٌ فَوَجْهَانِ جُمِّلَا

بِطُولٍ وَقَصْرٍ وَصْلُ (وَرْشٍ)

 

7. Pada satu kalimah yang mempunyai dua huruf hamzah Qato’ seperti ( ءَأنْذَرْتَهُمْ ،أَءُنَبِّئُكُمْ ، أَءِذَا ) , Warsh membaca dengan tashil pada huruf hamzah yang kedua.

Dalil as-Syatibi dalam bab Hamzataini min Kalimah :

وَتَسْهِيلُ أُخْرَى هَمْزَتَيْنِ بِكِلْمَةٍ (سَمَا) وَبِذَاتِ الَفَتْحِ خُلْفٌ لِتَجْمُلَا

Warsh mempunyai bacaan yang kedua sekiranya kedua huruf hamzah Qato’ tersebut berbaris atas. Contohnya ( ءَأنْذَرْتَهُمْ ) , maka Warsh membaca dengan 6 harakat madnya yaitu pada huruf hamzah Qato’ yang pertama sekiranya huruf yang ketiga yaitu nun berbaris sukun. Tetapi sekiranya huruf yang ketiga tersebut berbaris seperti (ءَأَلِدُ) yaitu huruf lam berbaris, maka Warsh hanya membaca madnya dengan 2 harakat saja pada huruf hamzah Qato’ yang pertama.

Dalil as-Syatibi dalam bab Hamzataini min Kalimah :

وَقُلْ أَلِفًا عَنْ أَهْلِ مِصْرَ تَبَدَّلَتْ لِ(وَرْشٍ) وَفِى بَغْدَادَ يُرْوَى مُسَهَّلَا

 

8. A.) Apabila bertemu dua huruf hamzah Qato’ yang sama barisnya dalam dua kalimah, maka Warsh membacanya dengan 2 cara yaitu :
i. Warsh akan mentashilkan huruf hamzah Qato’ yang kedua.

Contohnya :

( أَوْلِيَاءُ أُوْلَئِك )، ( عَلَى الْبِغَاءِ إِن )، ( جَاءَ أَمْرُنَا )

ii. Bacaan yang kedua, Warsh mentahkikkan huruf hamzah yang pertama dan mengibdalkan huruf hamzah yang kedua. Sekiranya huruf yang ketiga berbaris sukun seperti pada kalimah ( جَاءَ أَمْرُنَا ) yaitu huruf mim nya sukun ,maka madnya diibdalkan dengan 6 harakat .Tetapi jika huruf yang ketiga berbaris seperti pada kalimah ( أَوْلِيَاءُ أُوْلئِكَ ) yaitu huruf lam nya berbaris, maka madnya diibdalkan dengan 2 harakat saja.

Dalil as-Syatibi dalam bab Hamzataini min Kalimataini :

وَالأُخْرَى كَمَدٍّ عِنْدَ (وَرْشٍ) وَقُنْبُلٍ وَقَدْ قِيلَ مَحْضُ الْمَدِّ عَنْهَا تَبَدَّلَا

*Khusus pada kalimah ( هَؤُلَاءِ إِن ) di dalam surah al-Baqarah dan ( عَلَى الْبِغَاءِ إِن ) dalam surah an-Nur, Warsh mempunyai wajah yang ketiga yaitu mengibdalkan huruf hamzah Qato’ yang kedua dengan huruf ya’ yaitu ( هَؤُلَاءِ يِنْ) dan ( عَلَى الْبِغَاءِ يِن).

Dalil as-Syatibi dalam bab Hamzataini min Kalimataini :

وَفِى هَؤُلَا إِنْ وَالْبِغَا إِنْ لِ(وَرْشِ)هِمْ

بِيَاءٍ خَفِيفِ الْكَسْرِ بَعْضُهُمْ تَلَا

B.) Apabila bertemu dua huruf hamzah Qato’ yang berbeda barisnya dalam dua kalimah, maka Warsh membaca seperti berikut :

i. Jika huruf hamzah yang pertama berbaris atas dan hamzah kedua berbaris bawah seperti (تَفِىءَ إِلَى) , maka Warsh membaca dengan tashil huruf hamzah yang kedua.

ii. Jika huruf hamzah yang pertama berbaris atas dan hamzah kedua berbaris depan seperti        ( جَاءَ أُمَّةٌ ) ,maka Warsh membaca dengan tashil huruf hamzah yang kedua.

iii. Jika huruf hamzah yang pertama berbaris depan dan hamzah kedua berbaris atas seperti (السُفَهَاءُ أَلَا) ,maka Warsh membaca dengan ibdal huruf hamzah yang kedua dengan wau menjadi ( السُّفَهَاءُ وَلا ).

iv. Jika huruf hamzah yang pertama berbaris bawah dan hamzah kedua berbaris atas seperti (مِنَ السَّمَاءِ أَوِائتِنَا) ,maka Warsh membaca dengan ibdal huruf hamzah yang kedua dengan huruf ya menjadi ( مِنَ السَّمَاءِ يَوِائتِنا ).

v. Jika huruf hamzah yang pertama berbaris depan dan hamzah kedua berbaris bawah seperti (يَشَاءُ إِلَى), maka Warsh membaca dengan dua wajah yaitu :
a) Tashil huruf hamzah yang kedua.

b) Ibdal huruf hamzah yang kedua dengan huruf wau menjadi ( يَشَاءُ وِلى ).

Dalil as-Syatibi dalam bab Hamzataini min Kalimataini :

وَتَسْهِيلُ الأُخْرَى فِى اخْتِلَافِهِمَا (سَمَا) تَفِىءَ إِلَى مَعْ جَاءَ أُمَّةً أُنْزِلَا

نَشَاءُ أَصَبْنَا وَالسَّمَاءِ أَوِائْتِنَا فَنَوْعَانِ قُلْ كَالْيَا وَكَالْوَاوِ سَهَّلَا

وَنَوْعَانِ مِنْهَا أُبْدِلَا مِنْهُمَا وَقُلْ يَشَاءُ إِلَى كَالْيَاءِ أَقْيَسُ مَعْدِلا

 

9. Pada bab Hamzah Mufrad,Warsh mengibdalkan huruf hamzah yang terletak pada wazan (ف) fi’il.
Contoh : ( يُؤْمِنُوْنَ ) menjadi ( يُوْمِنُوْنَ ).

Dalil as-Syatibi dalam bab Hamzah Mufrad :

إِذَا سَكَنَتْ فَاءً مِنَ الْفِعْلِ هَمْزَةٌ فَ(وَرْشٌ) يُرِيهَا حَرْفَ مَدٍّ مُبَدِّلَا

 

10. Warsh akan memindahkan (نقل) huruf hamzah Qato’ yang berbaris kepada huruf sebelumnya yang sukun.
Contoh :

( مَنْ ءَامَنَا ) menjadi ( مَنَامَنَ )

Dalil as-Syatibi dalam bab Naqal :

وَحَرِّكْ لِ(وَرْشٍ) كُلَّ سَاكِنٍ اخِرٍ صَحِيحٍ بِشَكْلِ الْهَمْزِ وَاحْذِفْهُ مُسْهِلَا

 

11. Warsh mengidghamkan huruf (ت) ke dalam huruf (ذ) di dalam kalimah ( اِتَّخَذْتُم ).

Contoh :

ثم أخذْتُهَا

dibaca

ثم أَخَذتُّهَا

لَئِنِ اتَّخَذْتَ

dibaca

لئن اتَّخَذتَّ
Dalil as-Syatibi dalam bab Huruf Qurubat Makhrijiha :

اتَّخَذْتُمُوا أَخَذْتُمْ وَفِى الإِفَرَادِ (عَ)اشَرَ (دَ)غْفَلَا …

 

12. A.)Taklil atau Imalah Sughra, cara bacaannya adalah diantara Fatah dan Imalah Kubra. Warsh membaca fatah dan taklil dan pada zawatil Ya’ ( ذوات اليا ) yang diujungnya bukan huruf (ر) seperti (مُوسَى) dan semisal dengannya. Tetapi sekiranya diujungnya ada huruf (ر) seperti (بُشْرَى) dan semisal dengannya, maka Warsh membaca dengan taklil saja tanpa khilaf.

Dalil as-Syatibi dalam bab al-Fath wal Imalah :

وَذُو الرَّاءِ (وَرْشٌ) بَيْنَ بَيْنَ وَفِى ِأَرَا

كَهُمْ وَذَوَاتِ الْيَا لَهُ الْخُلْفُ (جُ)مِّلَا

B) Warsh juga akan mentaklilkan kalimah yang diujungnya terdapat huruf (ر) yang berbaris bawah dan sebelumnya ada huruf alif seperti ( أبْصَارِهِمْ ) dan semisal dengannya.

Dalil as-Syatibi dalam bab al-Fath wal Imalah :

وَ(وَرْشٌ) جَمِيعَ الْبَابِ كَانَ مُقَلِّلَا

C) Warsh akan mentaklilkan kalimah ( كَافِرِين ) dan ( الْكَافِرِين ) .

Dalil as-Syatibi dalam bab al-Fath wal Imalah :

وَ(وَرْشٌ) جَمِيعَ الْبَابِ كَانَ مُقَلِّلَا

Perhatian :
Sekiranya terdapat dalam satu ayat (dalam satu nafas bacaan) mad badal dan Zawatil Ya (fatah dan taklil) seperti فَتَلَقَّى ءَادَمُ ، ,maka Warsh membaca dengan :

1.Fatah Zawatil Ya dengan 2 dan 6 harakat mad badal.

2.Taklil Zawatil Ya dengan 4 dan 6 harakat mad badal.

 

13. Warsh akan menipiskan huruf (ر) yang berbaris atas atau berbaris depan dengan syarat:

A.) Sebelum huruf Ra ada huruf Ya yang sukun di dalam satu kalimah seperti ( بَشِيْرًا ),( خَيْرٌ لَكُمْ )

B.) Sebelum huruf Ra ada huruf yang berbaris bawah di dalam satu kalimah seperti ( سِرَاجًا )   atau ( مُبَشِّرًا )
C.) Sebelum huruf Ra ada huruf yang sukun dan sebelumnya berbaris bawah serta huruf yang sukun tersebut bukanlah terdiri dari huruf-huruf Isti’la’ kecuali huruf (خ) seperti ( إجْرَامِى )( إخْرَاج ),

Dalil as-Syatibi dalam bab ar-Ra’:

وَرَقَّقَ (وَرْشٌ) كُلَّ رَاءٍ وَقَبْلَهَا مُسَكَّنَةً يَاءٌ أَوِ الْكَسْرُ مُوصَلَا

وَلَمْ يَرَ فَصْلًا سَاكِنًا بَعْدَ كَسْرَةٍ سِوَى حَرْفِ الإِسْتِعْلَا سِوَى الخَا فَكَمَّلَا

 

14. Warsh akan menebalkan huruf lam yang berbaris atas sama ada bertasydid atau tidak sekiranya sebelum huruf lam terdapat huruf (ص) atau (ط) atau (ظ) ,dan ketiga huruf tersebut berbaris sukun atau pun berbaris atas.
Contoh :

( مَطْلَعِ ) ، ( إصْلَاح ) ، ( الصَّلَوة )

Dalil as-Syatibi dalam bab al-Lam :

وَغَلَّظَ (وَرْشٌ) فَتْحَ لَامٍ لِصَادِهَا أَوِ الطَّاءِ أَوْ لِلظَّاءِ قَبْلُ تَنَزُّلَا

إِذَا فُتِحَتْ أَوْ سُكِنَتْ كَصَلَاتِهِمْ وَمَطْلَعِ أَيْضًا ثُمَّ ظَلَّ وَيُوصَلَا

 

15. Dalam bab Ya’ Idhofah, Warsh akan menghidupkan huruf Ya Idhofah yang sukun kepada berbaris atas apabila bertemu dengan huruf hamzah yang berbaris atas seperti ( إنِّىْ أَعْلَم ) menjadi ( إنِّىَ أَعْلَم ).
Dalil as-Syatibi dalam bab Ya al-Idhofah :

فَتِسْعُونَ مَعْ هَمْزٍ بِفَتْحٍ وَتِسْعُهَا (سَمَا)

Atau huruf hamzah yang berbaris bawah seperti ( بَنَاتِىْ إِن كُنْتُم فَاعِلِين ) dibaca ( بَنَاتِىَ إِن كُنْتُم فَاعِلِين ).

Dalil as-Syatibi dalam bab Ya al-Idhofah :

وَثِنْتَانِ مَعْ خَمْسِينَ مَعْ كَسْرِ هَمْزَةٍ بِفَتْحٍ (أُ) ولِى حُكْمٍ

Atau huruf hamzah yang berbaris depan seperti ( إنِّىْ أُعَيذُهَا ) menjadi ( إنِّىَ أُعِيذُهَا ) .

Dalil as-Syatibi dalam bab Ya al-Idhofah :

وَعَشْرٌ يَلِيهَا الْهَمْزُ بِالضَّمِّ مُشْكَلَا فَعَنْ (نَافِعٍ) فَافْتَحْ

 

16. Pada kalimah ( النَّبِى ) ,Warsh menambah huruf hamzah dan membaca dengan mad muttasil dengan kadar 6 harakat menjadi ( النَّبِىء ).
Dalil as-Syatibi dalam bab Surah al-Baqarah :

وَجَمْعًا وَفَرْدًا فِى النَّبِىءِ وَفِى النُّبُو ءَةَ الْهَمْزَ كُلٌّ (غَيْرَ نَافِعٍ) أَبْدَلَا

 

17. Pada huruf-huruf tahaji yang terdapat pada awal surah, Warsh membaca dengan Taklil pada huruf Ra dalam ( الر ) pada awal surah Yunus,Hud,Yusuf,Ibrahim,Hijr dan ( المر ) pada surah ar-Ra’du.
Dalil as-Syatibi dalam bab surah Yunus :

وَذُو الرَّا لِ(وَرْشٍ) بَيْنَ بَيْنَ
18. Warsh membaca dengan Taklil pada huruf ( الها ) dan ( اليا ) pada ( كهيعص ) di awal surah Maryam.
Dalil as-Syatibi dalam bab surah Yunus :

وَ (نَافِعٌ) لَدَى مَرْيَمٍ هَا يَا

 

19. Pada huruf Ha dalam surah ( طه ), Warsh membaca dengan Imalah.(satu-satunya tempat dalam al-Quran yang Warsh membaca dengan Imalah).

Dalil as-Syatibi dalam bab surah Yunus :

وَتَحْتُ (جَ)نًى

 

20. Pada huruf ( الحا ) dalam semua surah yang dimulai dengan ( حم ) ,Warsh membaca dengan Taklil.
Dalil as-Syatibi dalam bab surah Yunus :

وَحَا (جِ)يدُهُ

 

21. Pada kalimah ( التَّوْرَىةَ ) yang terdapat pada seluruh al-Quran, Warsh membaca dengan Taklil.
Dalil as-Syatibi dalam bab surah Ali Imran :

وَإِضْجَاعُكَ التَّوْرَاةَ مَا رُدَّ حُسْنُهُ وَقُلِّلَ فِى (جَ)وْدٍ وَبِالْخُلْفِ بَلَّلَا

 

 

Demikianlah beberapa kaidah dalam membaca al-Qur’an riwayat Warsh ‘an Nafi’. Alangkah lebih baik dan lebih utama untuk bertalaqqi langsung pada guru atau ulama’ yang mengetahui dengan benar dalam ilmu al-Qur’an dan qira’ah-qira’ahnya. Karena, sesungguhnya proses “Membaca” yang Rasulullah sebutkan dalam banyak riwayat hadits adalah proses membaca Al-Quran yang berasal dari ingatan atau hafalan (Hifzh fish shuduur) bukan bacaan yang berasal dari tulisan (fish shutuur), karena begitulah awal mula Al-Qur’an diturunkan juga berasal dari ingatan, sebagaimana proses turunnya wahyu Al-Quran dari Allah subhaanahu wata’ala kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam melalui perantaraan Malaikat Jibril ‘alaihi salam dengan sebuah proses yang disebut dengan metode Talaqqi.

Walaupun sangat tidak disarankan oleh para ulama untuk belajar lewat murotal MP3 dan semisalnya, tapi jika hanya untuk mengenal dan sebagai pengantar untuk belajar tidak apa-apa untuk memanfaatkan media-media tersebut. Semisal youtube untuk dapat melihat bentuk bibir ketika huruf dibacakan, atau dari murotal MP3 untuk membiasakan mendengar bacaan. Tapi tetap diusahakan sebisa mungkin untuk mencari guru. Kenapa? Karena jika kita salah dalam mengucapkan huruf-huruf hijaiyah, baik itu dari makharijul (tempat keluar) huruf maupun sifat-sifat yang khas pada setiap huruf-huruf tersebut jelas si MP3 tidak akan bisa mengoreksi bacaan kita. Satu-satunya yang bisa membenarkan bacaan kita ketika salah hanya sang guru al-Quran, maka carilah ilmu dari mereka dengan kesungguhan dan mengharap keridhaan dari Allah Azza wa Jalla.

Wallahu a’lam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s