Pentingnya Ilmu. Ilmu Yang Bagaimana?

Tuhan berfirman, ketika menerangkan tentang para ulama: “Dari mereka yang menghamba kepada Tuhan, hanya para ulama yang takut kepada-Nya.” (QS 35:25). Nabi berkata: “Mencari ilmu wajib bagi setiap lelaki dan wanita Muslim”, dan beliau juga mengatakan: “Carilah ilmu sampai ke negeri Cina sekalipun”. Ilmu tak terukur, dan hidup itu singkat; karena itu, tidaklah wajib mempelajari semua ilmu, seperti ilmu perbintangan dan kedokteran, dan ilmu hitung, dan sebagainya, kecuali sejauh ilmu-ilmu itu berkaitan dengan Syari’at agama: mempelajari ilmu perbintangan untuk mengetahui waktu (shalat) di malam hari, mempelajari ilmu kedokteran untuk menjauhkan diri dari sakit, mempelajari ilmu hitung untuk memahami pembagian warisan dan menghitung masa iddah, dan sebagainya. Ilmu menjadi wajib hanya sejauh diperlukan untuk berbuat benar. Tuhan mengutuk mereka yang mempelari ilmu yang tak berguna (QS 2:96), dan Nabi berkata: “Aku berlindung kepada Tuhan dari ilmu yang tak bermanfaat”. Banyak yang dapat dikerjakan dengan pengetahuan sedikit, dan pengetahuan tidak boleh dipisahkan dari tindakan. Nabi berkata: “Orang yang taat beribadah yang tak memiliki pengetahuan tentang Tuhan, bagaikan keledai yang menggerakkan jentera”, karena keledai terus berputar-putar di tempat dan tak pernah melangkah maju.

Sebagian orang menganggap pengetahuan lebih tinggi daripada tindakan, sementara yang lain menomorsatukan tindakan, namun kedua golongan itu salah. Sebelum tindakan dipadukan dengan pengetahuan, tak patut menerima pahala. Shalat, sebagai contoh, baru dapat disebut shalat bila dilakukan dengan pengetauan mengenai prinsip-prinsip penyucian dan hal-hal yang bertalian dengan kiblat, dan dengan pengetahuan tentang watak niat. Belajar dan menghafal adalah tindakan yang membuat sesorang memperoleh pahala di hari kemudian; jika dia memperoleh pengetauan tanpa berusaha, dia tidak akan memperoleh pahala. Di sini kedua golongan manusia itu keliru: pertama, mereka yang menuntut pengetahuan demi memperoleh nama baik di masyarakat namun tak mampu mempraktikannya, dan dalam kenyataan tidak memperolehnya; dan kedua, mereka yang menganggap bahwa praktik sudah cukup dan bahwa pengetahuan tidak perlu. Diceritakan ketika Ibrahim bin Adham melihat sebuah batu yang di atasnya tertera tulisan, “Balikkan aku dan baca!” Dia mematuhi, dan terdapatlah tulisan: “Kau yang tak melaksanakan apa yang kau ketahui; lantas mengapa kau mencari apa yang tak kau ketahui?” Anas bin Malik berkata: “Orang yang bijak bercita-cita untuk mengetahui, orang yang bodoh bercita-cita untuk menceritakan.” Dia yang menggunakan pengetahuannya dengan tujuan memperoleh kekuasaan, kehormatan dan kekayaan, bukanlah ulama. Puncak tertinggi pengetahuan terungkap dalam kenyataan bahwa tanpa pengetahuan tak seorang pun mengenal Tuhan.

Dua Macam Pengetahuan

Pengetahuan ada dua macam: Ketuhanan dan kemanusiaan. Pengetahuan manusia kurang bernilai dibandingkan dengan pengetahuan Tuhan, karena pengetahuan Tuhan adalah sifat dari Diri-Nya, maujud dalam Dia, yang sifat-sifat-Nya tak terhingga; sedangkan pengetahuan kita adalah sifat dari diri kita, maujud dalam diri kita, yang sifat-sifatnya terbatas. Pengetahuan telah didefinisikan sebagai “pemahaman dan penyelidikan atas objek yang diketahui”, tetapi defenisi terbaik tentangnya adalah: “Suatu kualitas yang membuat orang yang bodoh menjadi bijak”. Pengetahuan Tuhan adalah pengetahuan yang dengan itu Tuhan mengetahui segala yang maujud dan yang tidak: pengetahuan seperti ini hanya milik Tuhan, tidak dapat dibagi dan tidak dapat dipisahkan dari Diri-Nya. Bukti tentangnya terletak dalam sifat tindakan-tindakan-Nya, karena tindakan menuntut adanya pengetahuan pada diri pelakunya sebagai syarat mutlak. Pengetahuan Tuhan meliputi apa yang tersembunyi dan meliputi apa yang nyata. Sudah selayaknya penuntut ilmu berpikir tentang Tuhan dalam setiap tindakannya, mengetahui bahwa Tuhan melihatnya dan melihat segala yang diperbuatnya.

Kisah. Mereka menceritakan bahwa seorang yang terkemuka di Bashrah pergi ke kebunnya. Secara kebetulan matanya melihat istri tukang kebunnya yang cantik jelita. Dia mengirim tukang kebun itu ke tempat jauh untuk melakukan perniagaan, dan berkata kepada perempuan itu: “Tutuplah pintu”. Wanita itu menjawab: “Aku telah menutup semuanya, kecuali satu, yang tak dapat kututup”. Orang terkemuka itu bertanya: “Pintu yang mana itu?” “Pintu,” kata wanita itu, “yang ada antara kita dan Tuhan”. Setelah menerima jawaban ini lelaki itu bertaubat dan meminta maaf.

Hatim al-Asham berkata: “Aku telah memilih empat hal untuk diketahui, dan mengesampingkan semua pengetahuan di dunia”. Dia ditanya: “Apa saja itu?” “Satu, “jawabnya, “adalah ini: aku mengetahui bahwa roti sehari-hariku telah diberikan untukku, dan tidak akan pernah bertambah maupun berkurang; akibatnya, aku telah berhenti berupaya menambahnya. Kedua, aku mengetahui bahwa aku punya utang kepada Tuhan yang tak ada orang lain bisa membayarnya kecuali aku sendiri; karena itu, aku berupaya membayarnya. Ketiga, aku mengetahui bahwa ada satu yang memburuku (yaitu maut), yang darinya aku tidak bisa melarikan diri; karena itu, aku telah mempersiapkan diriku untuk menemuinya. Keempat, aku mengetahui bahwa Tuhan melihatku; karena itu, aku malu berbuat apa yang seharusnya tak ku perbuat.”

Pengetahuan Tentang Kebenaran

Sasaran pengetahuan manusia mestilah untuk mengenal Tuhan dan perintah-perintah-Nya. Pengetahuan tentang “waktu” (‘ilm-I waqt) dan tentang semua keadaan lahir dan batin, yang pengaruh keadaan itu bergantung pada “waktu”, wajib atas setiap orang. Ini ada dua macam: utama dan pelengkap. Bagian lahir kelompok yang utama adalah membuat pengakuan seorang Muslim akan iman, sedangkan bagian batinnya adalah pencapaian pemahaman sejati. Bagian lahir kelompok pelengkap adalah pelaksanaan ibadah, sedangkan bagian batinnya adalah niat tulus. Segi lahir dan batin tidak dapat diceraikan. Segi eksoterik kebenaran tanpa segi esoteriknya  adalah kemunafikan, dan segi esoteric tanpa segi eksoterik adalah bid’ah. Maka, mengenai Syari’at, melulu formalitas (kejasmanian) adalah cacat, sementara melulu keruhanian adalah sia-sia.

Pengetahuan tentang Kebenaran (Haqiqat) memiliki tiga tiang:

(1) Pengetahuan tentang Zat dan Keesaan Tuhan.

(2) Pengetahuan tentang Sifat-sifat Tuhan.

(3) Pengetahuan tentang Tindakan-tindakan dan Kebijaksanaan Tuhan.

Pengetahuan tentang Syari’at juga memiliki tiga tiang:

(1) Al-Qur’an

(2) As-Sunnah

(3) Ijma’.

Pengetahuan tentang Zat Tuhan melibatkan pengakuan, di pihak seseorang yang berakal dan telah mencapai kedewasaan, bahwa Tuhan maujud secara lahir dengan zat-Nya, bahwa Dia tak terhingga dan tak terikat oleh ruang, bahwa zat-Nya bukan penyebab keburukan, bahwa tak satu pun makhluk-Nya menyerupai Dia, bahwa Dia tidak beristri dan tidak beranak, dan bahwa Dia adalah Pencipta dan Pemelihara segala yang dapat ditangkap angan-angan dan akalmu.

Pengetahuan tentang sifat-sifat Tuhan menuntut kau untuk mengetahui bahwa Tuhan memiliki sifat-sifat yang maujud di dalam Diri-Nya, yang bukan Dia maupun bukan bagian dari Dia, namun maujud di dalam Dia dan hidup oleh Dia, misalnya pengetahuan, Kekuatan, Hidup, Kehendak, Mendengar, Melihat, Berfirman, dan lain sebagainya.

Pengetahuan tentang Tindakan-tindakan Tuhan adalah pengetahuanmu bahwa Tuhan adalah Pencipta umat manusia dan semua tindakan mereka, bahwa Dia menjadikan alam semesta yang tak maujud menjadi maujud, bahwa Dia menentukan baik dan buruk dan menciptakan segala yang bermanfaat dan merugikan.

Pengetahuan tentang Syari’at melibatkan pengetahuanmu bahwa Tuhan telah mengutus para Rasul dengan mukjizat-mukjizatnya; bahwa Rasul kita, Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam, adalah Rasul yang sejati, yang menunjukan banyak mukjizat, dan bahwa apa pun yang beliau katakana kepada kita mengenai Yang Gaib dan Yang Tampak adalah benar semata-mata.

Aliran Sesat

Ada aliran sesat (zindiq) yang disebut sofis (Sufistha’iyan), yang percaya bahwa tak satu pun yang dapat diketahui  dan bahwa pengetahuan itu sendiri tidak maujud. Aku mengatakan kepada mereka: “Kau mengira bahwa tak ada sesuatu yang dapat diketahui , benar tidak pandanganmu?” Jika mereka menjawab, “Benar!” maka mereka justru membenarkan kenyataan pengetahuan; dan jika mereka menjawab, “Itu tidak benar” maka menolak pernyataan yang batal adalah konyol. Ajaran yang sama dianut oleh sebuah aliran orang-orang sesat yang berkaitan dengan tasawwuf (palsu). Mereka berkata bahwa, karena tidak ada yang bisa diketahui, penyangkalan mereka terhadap pengetahuan lebih sempurna daripada peneguhan terhadapnya. Pernyataan ini berangkat dari ketololan dan kebodohan mereka. Penyangkalan terhadap pengetahuan haruslah merupakan akibat dari pengetahuan, atau dari kebodohan. Kini, tidak mungkin bagi pengetahuan untuk menyangkal pengetahuan; karena pengetahuan tidak dapat disangkal kecuali oleh kebodohan, yang hampir mirip dengan kekafiran dan kepalsuan; karena tidak ada pertalian antara kebodohan dengan kebenaran. Ajaran yang kita bicarakan ini bertentangan dengan ajaran semua Syaikh Sufi, tetapi secara umum dinisbatkan kepada para Sufi oleh orang yang mendengar dan menganutnya. Aku serahkan mereka kepada Tuhan, terserah kepada-Nya apakah mereka akan terus-menerus berada dalam kesalahan. Jika agama menguasai mereka, mereka akan berbuat lebih hati-hati dan tidak akan salah menilai Sahabat-sahabat Tuhan dan akan lebih memperhatikan apa yang berkenaan dengan mereka sendiri. Walaupun beberapa orang sesat mengaku sebagai Sufi dalam upaya menyembunyikan ketololan mereka di bawah keindahan orang lain, mengapa harus ada anggapan bahwa semua Sufi adalah seperti pembohong-pembohong ini, dan bahwa benarlah memperlakukan mereka semua dengan penghinaan. Orang yang ingin dikenal sebagai orang yang berilmu dan religious, namun nyata-nyata tidak memiliki pengetahuan dan agama, suatu kali berkata kepadaku: “Ada dua belas aliran sesat, dan satu di antaranya berkembang di antara mereka yang menganut tasawwuf (mutashawwifah)”. Aku menjawab: “JIka satu aliran itu milik kami, maka yang sebelas milikmu; dan para Sufi lebih dapat melindungi dirinya dari satu aliran daripada kau dapat mengatasi yang sebelas”. Semua kesesatan ini timbul dari kerusakan dan kemerosotan masa, namun Tuhan selalu menyembunyikan Wali-wali-Nya dari orang banyak dan menjauhkan dari orang-orang yang tak bertuhan. Berkata pembimbing keruhanian terkemuka, ‘Ali bin Bundar Al-Shayrafi: “Kerusakan hati manusia sejalan dengan kerusakan masa”.

Sekarang, dalam pasal berikut, akan aku kutip beberapa pernyataan para Sufi sebagai peringatan terhadap orang-orang yang ragu, orang-orang yang diperhatikan oleh Tuhan.

Pernyataan Para Sufi Tentang Pengetahuan

Muhammad bin Fadhl Al-Balkhi berkata: “Pengetahuan ada tiga macam – dari Tuhan, dengan Tuhan, dan tentang Tuhan”. Pengetahuan tentang Tuhan adalah ilmu makrifat, yang dengan ini Dia dapat diketahui oleh semua Nabi dan wali-Nya. Ia tidak bisa diperoleh dengan cara-cara yang biasa, tetapi adalah hasil dari petunjuk dan penerangan Tuhan. Pengetahuan dari Tuhan adalah ilmu tentang Syari’at, yang telah Dia perintahkan dan wajibkan atas kita. Pengetahuan dengan Tuhan adalah ilmu tentang maqam-maqam, “jalan”, dan tingkatan-tingkatan para wali. Makrifat tak punya gaung tanpa penerimaan Syari’at, dan Syari’at tak terlaksana secara benar sebelum maqam-maqam terejawantahkan.

Abu ‘Ali Tsaqafi berkata: Al-‘Ilm hayat al-qalb min al-jahl wanur al-‘ayn min al-zhulmat. (Pengetahuan adalah hidupnya hati, yang mewujudkannya dari matinya kebodohan: ia adalah cahaya mata iman, yang melindunginya dari gelapnya kekafiran). Hati orang-orang kafir mati karena mereka tak kenal Tuhan, dan hati orang yang lalai sakit karena mereka tak mengenal perintah-perintah-Nya. Abu Bakr Warraq dari Tirmidz berkata: “Mereka yang puas dengan perdebatan (kalam) tentang pengetahuan, dan tidak melaksanakan asketisme (zuhud) menjadi zindiq; dan mereka yang puas dengan yurisprudensi dan tidak menahan diri dari dosa (wara’), menjadi berdosa”. Ini berarti bahwa Tauhid tanpa amal adalah adalah takdir (jabr), sedangkan pengucap Tauhid harus menganut ajaran takdir, namun berbuat seakan-akan dia percaya kepada kehendak bebas, mengambil jalan tengah antara kehendak bebas dan takdir. Begitulah arti yang benar dari perkataan lain yang diucapkan oleh guru keruhanian itu, yakni: “Tauhid di bawah takdir, dan di atas kehendak bebas”.

Tidak adanya agama yang benar dan akhlak timbul dari kelalaian (ghaflat). Berkata guru besar, Yahya bin Mu’adz Al-Razi: “Jauhkan masyarakat dari tiga golongan manusia. Ulama-ulama yang lalai, para pembaca Al-Qur’an yang munafik, dan orang-orang bodoh yang mengaku pengikut jalan tasawwuf”. Ulama-ulama yang lalai mengarahkan hati mereka kepada keuntungan duniawi dan berusaha mengambil hati penguasa dan pemimpin yang zhalim, dan disesatkan oleh kepandaiannya mengisi waktu dengan perdebatan, dan menyerang ahli-ahli agama yang terkemuka. Para pembaca Al-Qur’an yang munafik memuji apa saja yang sesuai dengan keinginan mereka, sekalipun keinginan itu buruk, dan mengutuk apa saja yang tidak mereka sukai, sekalipun yang dikutuk itu baik: mereka berusaha mencari muka dengan berlaku munafik. Penipu-penipu sesat yang mengaku pengikut jalan tasawwuf tak pernah berguru kepada seorang ahli keruhanian (pir), bukan pula murid seorang Syaikh, namun tanpa pengalaman apa pun mereka menerjunkan diri dalam masyarakat, dan mengenakan jubah biru (kabudi), dan menempuh jalan liar.

Abu Yazid Bisthami berkata: “Aku berjuang dalam pertarungan ruhani selama tiga puluh tahun, dan aku tak mendapatkan apa pun yang lebih sulit menurutku selain pengetahuan dan menuntut pengetahuan”. Adalah lebih mudah bagi kodrat manusia untuk berjalan di atas api dibanding mengikuti jalan pengetahuan, dan hati yang bodoh akan lebih siap menyeberangi Jembatan (Shirat) seribu kali dibanding mempelajari satu pengetahuan; dan orang yang jahat lebih suka memasang tendanya di neraka dibanding mengamalkan satu pengetahuan. Karena itu, kau harus mempelajari pengetahuan dan mencari kesempurnaan di dalamnya. Sempurnanya pengetahuan manusia adalah kejahilan akan pengetahuan Tuhan. Kau harus cukup tahu bahwa kau tak tahu. Yakni, pengetahuan manusia hanya mungkin bagi manusia, dan kemanusiaan adalah rintangan terbesar yang memisahkannya dari Ketuhanan. Seperti dikatakan penyair:

Al-‘ajzu ‘an daraki al-idraki idraku

Wa al-waqfu fi thuuruqi al-akhyari isyaraku

Penglihatan sejati adalah keputus-asaan untuk dapat melihat,

Namun tidak melangkah di jalan kebaikan adalah kesyirikan.

Barangsiapa tidak mau belajar dan tetap berada dalam kebodohannya, adalah seorang musyrik, namun bagi yang belajar, bilamana pengetahuannya menjadi sempurna, kenyataan tersingkap, dan dia melihat bahwa pengetahuannya tidak lebih daripada ketidakmampuannya untuk mengetahui tujuan apa yang akan dicapainya, karena kenyataan-kenyataan tidaklah dipengaruhi oleh nama-nama yang diberikan kepada mereka.

( Disadur dari kitab “Kasyf Al-Mahjub” karya ‘Ali Ibn ‘Utsman Al-Hujwiri )

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s