Kebenaran Selektif

Mullah sedang memasak untuk sebuah pesta dan datang untuk meminjam panci besar dari wanita di sebelah rumah. Wanita itu enggan meminjamkan panci, tetapi merasa diwajibkan oleh adat kesopanan dan, dengan enggan, membiarkan Mullah meminjamnya. Dia terkejut saat Mullah mengembalikan panci itu dengan cepat, bersama dengan panci berukuran lebih kecil. Panci besar ini pasti hamil ketika aku meminjamnya, ujar Mullah menjelaskan dan melahirkan panci kecil ini. “Wah,” komentar ibu rumah tangga yang merasa senang, “aku memang sudah mencurigai hal ini.” Dia mengucapkan terima kasih kepada Mullah sebesar-besarnya karena telah menangani proses kelahiran. Ketika Mullah kembali beberapa bulan kemudian untuk meminjam panci besar lagi, sang ibu rumah tangga dengan senang hati meminjamkannya. Namun, pada hari-hari berikutnya tidak tampak tanda keberadaan Mullah dan, ketika ibu rumah tangga itu datang untuk mengambil pancinya, Mullah dengan sangat sedih menjelaskan bahwa panci itu telah hamil lagi tapi, sayangnya, kali ini meninggal saat proses melahirkan. “Itu konyol!” sergah ibu rumah tangga. “Bagaimana mungkin panci bisa hamil dan meninggal saat melahirkan?” “Ah, tapi Nyonya,” jawab Mullah, “Kau percaya kepadaku saat panci itu hamil untuk pertama kalinya. Jadi, kita telah sepakat bahwa semua panci adalah makhluk fana dan, tentunya, kematian tak terduga memang tragis, tapi bukannya tidak biasa.”

Dalam kisah klasik ini, baik Mullah dan ibu rumah tangga tersebut mencari keuntungan untuk dirinya sendiri dengan mengatakan dan menerima apa yang disebut kaum sufi sebagai “kebenaran selektif” – manipulasi kebenaran untuk keuntungan pribadi. Ego yang liar senang bermain-main dengan kebenaran. Pikirkan kebohongan kecil dan alasan yang kita buat sehari-hari dalam bentuk sedikit menekuk kebenaran, ucapan yang berlebihan, sikap menghindari, atau penyanggahan. Lalu, ada kebohongan yang lebih besar dan lebih blak-blakan yang kita katakan di dalam hati untuk membenarkan bias kita dan mendahulukan kepentingan kita sendiri. Setiap kali berbohong atau terlibat dalam kebenaran selektif, kita memperlebar kesenjangan antara diri kita sendiri dan esensi sejati kita.

Dalam kisah lain, Mullah menjabat sebagai hakim desa saat tetangganya menemuinya untuk meminta pendapat hukum. “Jika bantengmu menyerang dan menyakiti sapiku, apakah aku boleh mengajukan tuntutan hukum?” “Tentu saja tidak,” jawab Mullah cepat. “Binatang tidak dapat dimintakan tanggung jawab atas tindakannya.” Tetangganya menghela napas lega. “Aku senang mendengarnya. Tapi, sebenarnya, ceritanya terbalik. Maksudku, bantengku menyerang sapimu.” “Nah, kalau itu sama sekali berbeda keadaannya!” seru Mullah. “Dalam hal ini, aku harus melakukan penelitian lebih lanjut dan memeriksa preseden hukum sebelum membuat pernyataan!”


Karena kita sangat mudah terjerumus ke dalam manuver kebenaran untuk melayani kepentingan kita sendiri, bagaimana kita mengendalikan kebiasaan ego ini? Orang bijak meminta kita memeriksa niat dan ketulusan kita sebelum berbicara dan mengambil tindakan pada kebenaran kita.


Seorang sepuh muslim bercerita bagaimana dia memutarbalikkan kebenaran agar memberikan manfaat bagi dirinya pribadi. Saat berusia 30-an, dia memutuskan untuk mengambil istri kedua. Dia membenarkan tindakannya atas dasar sunnah, atau contoh Nabi, yang memiliki beberapa istri . Tidak hanya hal itu adalah benar, katanya, sudah menjadi misi sucinya untuk memberikan perlindungan dan penghidupan dari pernikahan kepada beberapa orang wanita. Namun, kenyataannya adalah dia menginginkan wanita yang lebih muda. Bertahun-tahun kemudian, anak lelaki putra itu menikahi seorang wanita tua yang menjanda, dan orang itu begitu marah dengan “aib” yang dibawakan anaknya pada keluarga dengan menikahi wanita seperti itu sehingga dia memutuskan untuk mencabut hak warisnya. Sang anak, yang juga mengutip sunnah, menunjukkan bahwa istri pertama Nabi yang dikasihinya, Khadijah, lima belas tahun lebih tua darinya dan seorang janda. Kali ini, perilaku suci Nabi tidak menarik untuk sang ayah dan dia tetap menjauhkan diri dari putranya selama beberapa tahun. Berkat kasih karunia Allah, orang itu menghadiri sebuah konferensi tentang pengampunan dan menyadari bahwa tindakannya menggunakan sunnah untuk pernikahannya sendiri dan penolakannya atas sunnah dalam kasus pernikahan anaknya benar-benar menjadi contoh “kebenaran selektif”, saat menyadari hal ini, dia mampu menghubungi jati diri sejatinya dan berdamai kembali dengan putranya.


Walaupun berbahaya bagi jiwa kita sendiri ketika memanipulasi kebenaran, sebenarnya hal itu bahkan lebih merusak ketika agama dan pemerintah yang menyebarkan “kebenaran selektif” ini. Sudah kita ketahui bersama bahwa lembaga keagamaan dan ulama tanpa malu-malu telah menafsirkan kitab suci untuk mendukung kepentingan orang yang berkuasa.


Jadi, tidak mengherankan bahwa sekarang, di era Kebangkitan Dunia Arab, ketika warga negara-negara Arab menantang pemerintahan otoriternya, para ahli hukum mengeluarkan “kebenaran selektif” baru atas perintah pemimpin yang disudutkan. Otoritas keagamaan di Saudi mengeluarkan putusan bahwa penggulingan pemerintahan tersebut tidak Islami, sementara ulama di Mesir telah menyatakan bahwa pemberontakan di negara mereka sesuai dengan ajaran Al-Quran dan Hadis. Mullah sangat tahu kekeliruan “kebenaran” religius ini : Ketika ditanya apakah agamanya adalah ortodoks, dia menjawab, “Itu tergantung pada kelompok bidat manakah yang berkuasa.”


Secara individual atau kolektif, sulit untuk menentukan kapan kita mulai meniptakan “kebenaran selektif”. Kita perlu memeriksa niat kita yang terdalam dengan segenap hati dan jiwa. Apakah kita berbicara dari jati diri yang tertinggi ketika memberikan alasan atau mengeluarkan pendapat yang memberikan keuntungan bagi kita?


 ~ Renungan ~
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allahh lebih tau kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.” (QS 4 : 135)

“Pencari itu banyak jumlahnya : tetapi hampir semuanya merupakan pencari keuntungan pribadi. Aku jarang menemukan seorang pencari kebenaran.” (Qadhi Jami)

~ Latihan ~
Apa sajakah kebenaran selektif, kecil atau besar, yang pernah kamu alami? Apa saja langkah lembut yang dapat kamu ambil, sedikit demi sedikit, untuk menggantikan kebenaran yang tidak dipoles untuk kebenaran yang nyaman ini?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s