Al Imam Syeikh Abdullah bin Bayyah

pencintabinbayyah_BPuEUwzgE1c

Syeikh Abdullah bin Bayyah dilahirkan pada 1935 di Republik Islam Mauritania, negara yang terletak di benua Afrika. Ayahnya Syeikh Mahfudz bin Bayyah, merupakan seorang ulama terkemuka dan sekaligus ketua persatuan ulama se-Mauritania. Syeikh Bin Bayyah menjalani masa studinya di Mauritania, yakni di sekolah ayahnya sendiri. Di sini ia mempelajari ilmu Al-Quran dan penafsirannya, ilmu hadis, fiqih, qaidah al-fiqhiyyah, nahwu-sharaf, dan sebagainya. Pada usia ke-24 ia melanjutkan studinya di Tunisia dengan mengambil konsentrasi Hukum Islam dan mengikuti pelatihan menjadi Qadhi.

Seorang cendikiawan muslim pemikir jenius, tercatat sebagai salah satu ulama terbesar zaman ini. Beliau seorang ulama bermazhab Asy’ari secara akidah dan Maliki secara fiqih juga spesialis seluruh madzhab Sunni lainnya. Beliau juga adalah tokoh Fiqih Minoritas, dan Usul Fiqih era kini, yang juga pakar dalam menerapkan Maqashid al-Syariah. Banyak isu-isu fiqih minoritas yang dibahas dan dirujuk kepada beliau untuk menyelesaikan di negara-negara di mana umat Islam sebagai golongan minoritas di sana. Beliau jugalah guru dari Syeikh Hamza Yusuf dari Amerika dan Habib Ali al-Jufri.

Beliau digelari “استاذ الجيل” guru generasi oleh para pemuda dunia. Sangat lembut ketika bertutur sapa.

Dakwahnya sangat dikenal di kawasan Afrika dan Asia tanpa terkecuali Asia Tenggara. Melalui seminar dan dialog ilmiah ia mendatangi banyak negara, dan beliau sangat aktif di event-event pertemuan antar ulama dunia. Beberapa tahun silam beliau dan Syed Naquib Al Attas mengisi seminar bersama di Malaysia. Dan juga pernah diduetkan dengan Syeikh Al Buthi dalam seminar-seminar ilmiah ditimur tengah. Tak ada satu ulama pun baik dari Ahlus Sunnah bahkan dari luar Ahlus Sunnah yang tak mengakui kebesaran ilmu beliau.

Beliau pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan lalu Menteri Kehakiman di Mauritania. Bahkan beliau Wakil Presiden dari Presiden pertama negeri Mauritania. Beliau pernah menjabat sebagai Wakil Presiden dari Persatuan Ulama Internasional, dimana beliau lalu mengundurkan diri di pertengahan 2013. Beliau juga merupakan anggota dari Dewan Penelitian dan Fatwa Eropa yang berpusat di Dublin, suatu dewan ulama yang mengarah pada usaha menjelaskan hukum-hukum Islam yang sensitif terhadap kehidupan muslim Eropa. Serta banyak lagi jabatan-jabatan dan perhargaan yang beliau terima.

Dilansir dari wikipedia, Syeikh Bin Bayyah termasuk di antara 500 muslim paling berpengaruh di dunia tahun 2009-2013. Dan dari daftar terbaru, beliau menempati peringkat 9 muslim paling berpengaruh di Dunia. Kitab-kitab karya beliau seringkali menyabet penghargaan di Eropa.

Sebagian karya tulisnya adalah :

1) توضيح أوجه اختلاف الأقوال في مسائل من معاملات الأموال.
2) حوار عن بعد حول حقوق الإنسان في الإسلام.
3) خطاب الأمن في الإسلام وثقافة التسامح والوئام.
4) أمالي الدلالات ومجالي الاختلافات.
5) سد الذرائع وتطبيقاته في مجال المعاملات.
6) فتاوى فكرية.
7) صناعة الفتوى وفقه الأقليات.
8 ) مقاصد المعاملات ومراصد الواقعات.
9) أثر المصلحة في الوقف.
10) البرهان.
11) الإرهاب، التشخيص والحلول.
12) دليل المريض لما له عند الله من الأجر العريض.

 

Syeikh Bin Bayyah : Pelopor Moderasi dan Perdamaian

Salah satu pemikiran Syeikh Bin Bayyah yang paling terkenal adalah Islam as a Compassion Religion (Islam sebagai Agama Kasih Sayang). Konsep ini hampir tercermin dalam setiap tulisan Syeikh Bin Bayyah di dalam bukunya, artikel dan fatwanya. Konsep ini mendorongnya untuk selalu mempromosikan perdamaian. Syeikh Bin Bayyah ingin menunjukkan bahwa Islam merupakan agama yang mencintai perdamaian dan tidak menghendaki segala bentuk kekerasan. Kuotasinya yang terkenal adalah “If I asked for people to die for the sake of God, I would have them lining up at my house. But when I ask people to live for the sake of God, I can’t find anyone”, (Jika saya meminta orang-orang untuk meninggal di Jalan Tuhan, maka akan saya temui mereka mengantri di depan rumah saya. Namun, ketika saya meminta orang-orang untuk hidup di jalan Tuhan, maka saya tidak bisa menemukan seorang pun yang bersedia). Perkataan ini mengandung makna mendalam yang ditujukan kepada kelompok-kelompok yang menyerukan ‘mati’ sebagai jalan cepat menuju surga. Sebaliknya, Syeikh Bin Bayyah ingin menunjukkan bahwa menjadi ‘hidup’ merupakan cara beriman yang bisa mengantarkan seseorang menuju Tuhannya.

Kepeduliannya terhadap isu-isu perdamaian juga bisa dilihat dari beberapa tulisannya yang mengecam terorisme dan peduli terhadap isu minoritas, sebut saja Fatwa Response to ISIS, This is not the path to paradise. Beliau mengkritik aksi kekerasan yang dilakukan oleh ISIS dengan membeberkan empat poin utama yang ia kutip dari Al-Quran, Hadis, perkataan Sahabat dan ulama. Beliau juga menawarkan sebuah konsep jihad yang tidak melulu berperang dan angkat senjata. Jihad adalah menaati perintah Tuhan. Jihad yang paling besar adalah jihad untuk melawan hawa nafsu demi menaati Tuhan. Jihad seperti ini bisa dibuktikan melalui puji-pujian terhadap Tuhan, berbuat kebaikan kepada sesama dan turut serta dalam membangun peradaban manusia.

Selain jihad, beliau juga mengkritik penggunaan istilah Khilafah yang dianggap sebagai satu-satunya bentuk pemerintahan yang memiliki legitimasi kuat dalam Islam. Bagi Syeikh Bin Bayyah khilafah bukanlah masalah teologi tapi hanya merupakan salah satu bentuk subjek hukum untuk ketentuan hukum. Khilafah hanyalah salah satu dari sekian cara untuk mencapai persatuan antara Negara atau wilayah sehingga mereka dapat bekerja sama dan saling melengkapi. Oleh karena itu, sistem kekhalifahan mungkin saja diganti hari ini jika sudah tidak relevan. Beliau mengakhiri tulisannya dengan, “Kami percaya bahwa kesempatan bagi keadilan untuk tumbuh ada ketika ada perdamaian, bukan perang. Setiap peperangan harus dihentikan dan perang saudara harus dihentikan”.

Selain aktif menulis, beliau juga aktif menjadi anggota organisasi internasional dan menginisiasi beberapa forum untuk mempromosikan perdamaian. Pada 2014, bin Bayyah menginisiasi pertemuan lebih dari 250 ulama dan pemikir islam. Tujuan dari forum ini adalah mengajak para pemimpin agama untuk turut serta bertanggung jawab dalam menjaga perdamaian, yakni menjaga kehidupan Muslim. Dalam ceramahnya ia menyampaikan, “Tidak ada alasan untuk para ulama dan pemimpin untuk tidak memenuhi kewajiban mereka untuk mengklarifikasi hal-hal dan menyarankan dunia Muslim untuk memadamkan api konflik dalam rangka menghentikan pertumpahan darah dan bekerja sama dalam apa yang benar dan baik”.

Syeikh Bin Bayyah dan semangatnya untuk menciptakan perdamaian didorong oleh pemikirannya yang selalu melakukan pembaharuan dalam hukum Islam. Beliau menyatakan, “Pembaharuan merupakan hal yang fundamental dalam agama Islam, yakni pembaharuan yang didasarkan kepada ketersambungan antara tek-teks keagamaan, tujuan dari teks tersebut dan realitas hidup pada saat ini”. Melalui ide pembaharuan tersebutlah beliau menemukan bahwa “Seruan kepada keamanan juga adalah seruan untuk mencapai keadilan, melalui pendekatan yang tidak zalim dan lebih hampir kepada prinsip rahmat”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s